7 Destinasi Wisata Religi Masjid Tua yang Harus Kamu Kunjungi

0
319

election.id – Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya merupakan muslim, wisata religi di negeri ini cukup diminati oleh banyak orang. Hal ini terlihat dari sering diadakannya ziarah ke makam-makam Walisongo atau mengunjungi masjid-masjid kuno yang telah berdiri selama ratusan tahun. Di tempat ini, peziarah bisa melakukan doa, napak tilas penyebaran Islam di masa lalu hingga menikmati arsitektur bangunan masjid yang memukau.

Kalau kamu ingin merasakan sensasi wisata religi yang berbeda, kenapa tidak menjelajah masjid-masjid tertua di Indonesia saja. Di masjid yang tersebar di beberapa daerah itu, kamu bisa menikmati sensasi beribadah di bangunan megah yang terus berdiri dan tidak tergoyahkan selama ratusan tahun.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa rekomendasi masjid yang bisa kamu gunakan untuk napak tilas.

1. Masjid Sunan Ampel, Surabaya

Masjid Sunan Ampel yang terletak di Surabaya dibangun oleh Raden Achmad Rachmatullah atau sering disebut Sunan Ampel. Beliau yang merupakan salah satu Walisongo membangun masjid di kawasan Majapahit ini untuk menyebarkan Islam di kawasan pesisir utara. Dibantu oleh banyak pengikutnya, masjid dengan arsitek Jawa dan Arab ini berdiri dengan megah pada tahun 1421.

Saat ini Masjid Sunan Ampel ramai dikunjungi oleh peziarah. Setiap hari mereka yang datang dari penjuru Indonesia akan menyempatkan waktu untuk salat atau mengunjungi makam Sunan Ampel tidak jauh dari masjid yang berdiri dengan megah. Kalau kamu kebetulan sedang berada di Surabaya, jangan lupa untuk mampir ke masjid yang berusia nyaris 6 abad ini.

2. Masjid Saka Tunggal, Banyumas

Dinamai saka tunggal karena kayu penyangga yang ada di sini hanya satu saja dan terletak di tengah-tengah. Masjid ini dibangun pada abad ke-13 di mana Mataram Kuno masih berkuasa. Dua abad sebelum Walisongo melakukan penyebaran Islam di tanah Jawa, masjid ini sudah dibangun dengan cukup megah oleh seseorang yang memiliki nama Mbah Mustolih.

Mbak Mustolih menyebarkan Islam secara perlahan kepada masyarakat di kawasan Jawa Tengah. Beliau menjadikan Desa Cikakak sebagai pusat penyebaran agama Islam dengan membangun masjid. Oh ya, unsur kejawen masih sangat kental pada masjid mengingat pembuatannya dilakukan pada tahun 1288.

3. Masjid Wapauwe, Maluku

Masjid Wapauwe dibangun pada abad ke-15 tepatnya di tahun 1414 dan berada di Desa Keitetu, Maluku Tengah. Untuk sampai ke masjid yang berusia 600 tahun ini, kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi atau umum dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dari Kota Ambon menuju arah pegunungan hijau dengan jalanan sedikit menanjak.

Masjid Wapauwe memiliki ukuran sekitar 10×10 meter dengan beberapa bangunan pendukung di sampingnya. Dari dahulu hingga sekarang, arsitek dari bangunan masjid tetap dipertahankan. Atab dari daun rumbia tetap digunakan meski zaman sudah modern. Oh ya, masjid ini tidak dibangun dengan menggunakan paku. Hampir semua kayu yang ada disambungkan dengan pasak yang terbuat juga dari kayu.

4. Masjid Agung Demak, Demak

Masjid Agung Demak dibangun pada tahun 1477 saat Kesultanan Demak masih berada pada masa kejayaannya. Masjid ini dibangun oleh para Walisongo yang kala itu berkumpul di kerajaan Islam ini. Mereka ingin menjadikan masjid yang berukuran 20×20 meter ini menjadi pusat penyebaran Islam di kerajaan Demak dan menarik banyak masyarakat untuk datang.

Masjid Agung Demak memiliki ciri khas berupa atap berbentuk limas yang bertumpuk-tumpuk. Desain yang unik ini akhirnya ditiru oleh banyak negara termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam. Oh ya, ada satu keunikan lain yang bisa kamu lihat dari Masjid Agung Demak. Di dalam bangunan ada satu saka yang dijadikan penyangga utama. Saka ini terbuat dari tatal kayu yang disusun sedemikian rupa oleh Sunan Kalijaga agar menjadi saka yang kuat.

5. Masjid Agung Sang Ciptarasa, Cirebon

Masjid tertua terakhir yang ada di Indonesia adalah Masjid Agung Sang Ciptarasa. Masjid ini dibangun pada tahun 1478 setelah Masjid Agung Demak. Pembangunan masjid ini dilakukan atas usul permaisuri dari Sunan Gunung Jati dan disetujui oleh para Walisongo yang lain. Bahkan pembangun dari masjid ini adalah Sunan Kalijaga dan diarsiteki oleh Raden Sepat.

Bangunan dari masjid agung milik Kesultanan Cirebon ini dijadikan pusat penyebaran Islam di kerajaan itu. Dengan ukuran bangunan 20×20 meter, masjid ini bisa menampung cukup banyak jemaah yang ingin mempelajari Islam lebih dalam.

6. Masjid Istiqlal, Jakarta

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan masjid yang satu ini. Ya, ketika lebaran Idul Fitri tiba, seluruh stasiun TV nasional menyiarkan serentak liputan sholat Ied di Masjid Istiqlal. Masjid yang terletak di jantung ibukota Jakarta ini didaulat sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Sejarah yang tersembunyi di dalamnya pun menarik untuk ditelisik lebih dalam.

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno. Dibangun dari tahun 1951 dan berakhir pada tahun 1978, rentang waktu 27 tahun untuk membangun tempat peribadatan umat Islam ini menghasilkan kemegahan arsitektur modern serta ornamen geometris yang dapat kita nikmati saat ini. Yang menarik adalah arsitek yang bertugas untuk mendesain bangunan ini adalah Frederich Silaban, seorang Kristiani kelahiran Sumatera Utara. Tentunya, hal tersebut menjadi bukti adan

7. Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang

Jika diperhatikan sekilas, bangunan yang terletak di daerah Gayamsari, Semarang ini terlihat seperti Masjid Nabawi yang ada di Madinah. Bangunan seluas 7.662 m2 dengan halaman seluas 7.500 m2 ini mampu menampung tak kurang dari 15.000 jamaah dan termasuk ke dalam salah satu bangunan termegah yang ada di Indonesia.

Keunikan lain dari masjid ini adalah arsitekturnya yang merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Roma, dan Arab. Arsitektur Jawa terlihat pada bagian dasar tiang masjid yang bermotif batik seperti tumpal, untu walang, kawung, dan parang-parangan. Dinding masjid yang berhiaskan kaligrafi serta 6 payung hidrolik raksasa merupakan adopsi dari bangunan Masjid Nabawi yang mewakili arsitektur Arab. Sementara, arsitektur Roma nampak pada desain interior dan lapisan warna yang melekat di setiap sudut bangunan.

Kamu juga dapat menaiki menara Asmaul Husna dengan ketinggian 99 meter yang dilengkapi dengan teropong pandang untuk menikmati lanskap Semarang dan kapal yang sedang berlalu lalang di pelabuhan Tanjung Emas. Selain itu, di masjid ini terdapat Al-Quran raksasa yang ditulis oleh seorang penulis kaligrafi bernama H.Hayatuddin.

Inilah tujuh masjid yang bisa kamu gunakan untuk napak tilas. Meski usianya sudah sangat tua, masjid ini tetap berdiri kokoh dan menjadi bukti penyebaran Islam berabad-abad silam.(Tim Redaksi)

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here